MENGENAL EPILEPSI
Oleh : dr. Aprillia Dompas (Peserta PPDS Neurologi Fakultas Kedokteran UNSRAT)

Jumat, 02 Juni 2017 - 10:38:14 WITa
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Artikel Kesehatan - Dibaca: 411 kali

Epilepsi banyak dikenal dalam masyarakat sebagai penyakit “ayan” dan bahkan banyak di daerah tertentu masih menaruh stigma pada epilepsi sebagai suatu akibat sihir/guna - guna, kemasukan roh jahat, kesurupan, atau suatu kutukan. Stigma yang melekat pada masyarakat ini, akibat orang dengan epilepsi (ODE) mengalami serangan di tempat umum  sering dilihat oleh orang banyak sehingga menimbulkan berbagai persepsi dalam masyarakat. Masyarakat umum yang melihat orang dengan epilepsi yang sedang mengalami serangan takut menolong dikarenakan beranggapan epilepsi menular lewat air liur. Stigma dan mitos yang berkembang di masyarakat membuat ODE sering dikucilkan dalam pergaulan masyarakat, dikeluarkan dari sekolah, menghambat karier pekerjaan, kehidupan dalam berumah tangga dan kehidupan dalam masyakat luas. Sehingga keluarga yang memiliki anggota keluarga epilepsi sering menutup – nutupi keadaan, berimbas pada penanganan epilepsi yang tidak optimal.

Data dari World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa dari banyak studi menunjukkan rata-rata prevalensi epilepsi aktif 8,2 per 1000 penduduk, sedangkan angka insidensi mencapai 50 per 100.000 penduduk. Saat ini penduduk Indonesia mencapai kisaran 255 juta penduduk sehingga diperkirakan orang dengan epilepsi di Indonesia mencapai 2 juta penduduk. Epilepsi dapat mengenai berbagai usia dan tidak bergantung pada jenis kelamin pula.

Biasanya  ODE mengeluh rasa baal, kram – kram pada salah satu sisi, sakit kepala, mual yang diikuti gejala motorik berupa kaku seluruh tubuh ,gelonjotan sebagian atau seluruh  tubuh, dalam kedaan sadar atau tidak sadar disertai mata mendelik keatas, lidah tergigit, mengeluarkan liur, mengertakkan gigi adapun juga jenis epilepsi yang saat serangan pasien mengeluarkan suara atau berteriak atau menepuk – nepuk paha atau mengosok – gosok paha dengan telapak tangan. Serangan dapat terjadi pada saat pasien tidur maupun beraktifitas. Setelah serangan  pasien biasa lemas akibat kelelahan sehingga tertidur atau ada juga yang sadar sepenuhnya. Penyebab epilepsi itu sendiri di dasarkan pada ketidak seimbangan antara aliran dan sirkuit listrik di otak.

Dalam penegakan diagnosis epilepsi  mengutamakan hasil wawancara dengan keluarga atau orang yang mendampingi ODE kemudian di dukung dengan pemeriksaan Elektroencefalogram (EEG). Bila dalam hasil wawancara didapati suatu keragu – raguan dalam diagnosis maka pemeriksaan EEG perlu di lakukan. Pada pemeriksaan EEG di lihat gelombang – gelombang otak pada epilepsi gelombang otak akan menunjukan gambaran yang abnormal pada lokasi tertentu otak atau pada seluruh bagian otak.

Penanganan  ODE terdiri dari terapi farmakologis dan non farmakologis. Terapi farmakologis berupa obat – obatan tergantung jenis bangkitan epilepsi dengan memberikan edukasi tentang kepatuhan dalam minum obat, untuk terapi non farmakologis dukungan psikososial terhadap pasien dapat berupa dukungan unuk melanjutkan pendidikan, semangat dalam bekerja, menghindari aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi seperti mengemudi mobil maupun motor, berenang, atau olahraga menembak/memanah. ODE yang mendapatkan penanganan optimal memiliki prognosis yang baik karena tingkat kekambuhan yang kecil.

 Epilepsi bukan suatu penyakit yang menular, bila didapati ODE yang mengalami serangan pastikan ODE tidak berada pada ketinggian yang dapat mengakibatkan resiko jatuh, bebaskan jalan napas, longgarkan ikat pinggang, bebaskan pakaian yang ketat, posisikan pasien dalam posisi aman baringkan tubuh ke salah satu sisi untuk mencegah liur atau muntahan masuk ke saluran napas kemudian bawa ke pusat kesehatan terdekat.

0 Komentar

Komentar Anda